Langsung ke konten utama

Dear Diary #8 Tentang Integritas

 

Ada hari ketika seseorang belajar bahwa integritas ternyata bukan sekadar tentang mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Lebih jauh dari itu. Integritas adalah keberanian untuk tetap menyebut sesuatu sebagai kesalahan, bahkan ketika ada alasan yang sebenarnya bisa membuat kita memakluminya.

Karena setiap orang punya masalah. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Ada keluarga yang harus dipikirkan. Ada anak yang harus dijaga. Ada cicilan yang harus dibayar. Hidup memang tidak selalu memberi seseorang keadaan yang mudah. Tapi barangkali, sulitnya kehidupan tidak pernah menjadi alasan untuk mengubah sesuatu yang salah menjadi benar.

Sebab kalau setiap kesalahan selalu punya pembenaran, pada akhirnya tidak akan ada lagi yang merasa perlu bertanggung jawab. Yang lebih aneh lagi, kadang seseorang bisa terlihat sangat yakin ketika mengatakan tidak tahu apa-apa. Di depan orang lain, ia menjaga namanya. Menjauh ketika kesalahan mulai terbuka. Seolah-olah tidak pernah berada di sana. Tetapi ketika tidak banyak mata yang melihat, barulah keberanian untuk bertanggung jawab muncul.

Entah mengapa manusia bisa begitu takut kehilangan nama baik, sampai lupa bahwa yang jauh lebih penting adalah menjaga diri tetap baik. Nama baik bisa dijaga dengan banyak cara. Tetapi integritas hanya punya satu jalan : "Berani mengakui apa yang memang menjadi bagian dari kesalahan kita".

Mungkin tidak semua orang akan menyukai seseorang yang memilih jalan itu. Bahkan bisa jadi, suatu hari ia akan dianggap terlalu keras. Terlalu banyak bertanya. Terlalu ingin meluruskan sesuatu. Atau terlalu tidak bisa diajak bermain dengan cara yang sama. Tidak apa-apa. Sebab mengajarkan sesuatu yang benar memang tidak selalu membuat seseorang disukai.

Kadang justru membuatnya berdiri sendirian. Namun ada hal yang lebih penting daripada disukai. Yaitu mengetahui bahwa ketika suatu hari melihat ke belakang, ia tidak perlu malu kepada dirinya sendiri. Karena ia pernah memilih untuk tidak membiarkan kesalahan menjadi kebiasaan.

Ia pernah mencoba mengingatkan. Ia pernah mencoba meluruskan. Bukan karena merasa paling benar. Bukan karena ingin menjatuhkan siapa pun. Tetapi karena percaya bahwa sebuah tempat akan menjadi lebih baik jika orang-orang di dalamnya mulai berani bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.

Dan mungkin, itulah bentuk kepedulian yang paling tidak populer. Berani mengatakan bahwa yang salah memang salah, bahkan ketika mengatakan itu bisa membuat seseorang tidak menyukai kita. Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang bagaimana orang lain melihat kita.

Ada satu orang yang tidak pernah bisa kita hindari penilaiannya, "Diri sendiri".

Penulis by Bintang Amri Putra



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Diary #1 Tentang Terlalu Banyak Berpikir

Belakangan ini aku sering menyadari satu hal. Kadang yang membuat seseorang lelah bukanlah hidupnya, melainkan pikirannya sendiri. Ada begitu banyak kemungkinan yang dipikirkan, begitu banyak skenario yang dibayangkan, begitu banyak ketakutan yang bahkan belum tentu terjadi. Sampai akhirnya, semua itu justru membuat langkah terasa berat. Aku pernah ada di titik terlalu lama berpikir tentang masa depan. Bertanya apakah keputusan ini benar, apakah langkah ini akan berhasil, apakah aku cukup mampu untuk menjalani semuanya. Lucunya, semakin lama dipikirkan, semakin besar pula keraguannya. Sampai akhirnya aku sadar, mungkin tidak semua jawaban hadir dari hasil berpikir. Ada jawaban yang baru muncul ketika kita berani melangkah. Mungkin hidup memang tidak meminta kita memahami semuanya lebih dulu. Kadang, hidup hanya meminta kita untuk percaya dan mencoba. Kalau dipikir-pikir, mungkin banyak kesempatan yang hilang bukan karena kita tidak mampu. Tapi karena kita terlalu sibuk memi...

Dear Diary #4 Tentang Tidak Semua Hal Harus Di Pahami Sekarang

Ada fase dalam hidup ketika semuanya terasa kabur. Kita tidak benar-benar tahu sedang menuju ke mana. Tidak tahu keputusan yang diambil akan membawa ke tempat yang tepat atau justru sebaliknya. Tidak tahu apakah langkah kecil hari ini akan berarti besar nanti, atau hanya menjadi bagian dari jalan memutar yang melelahkan. Di fase seperti itu, pikiran biasanya menjadi sangat berisik. Kita ingin segera memahami semuanya. Ingin tahu kenapa sesuatu harus terjadi. Ingin tahu kenapa jalan terasa lambat. Ingin tahu kapan semuanya mulai terlihat jelas. Tapi semakin aku menjalani hidup, semakin aku sadar bahwa tidak semua hal memang harus dipahami saat ini juga. Ada banyak hal yang baru terlihat maknanya setelah waktu berjalan cukup jauh. Ada banyak kejadian yang dulu terasa seperti kegagalan, ternyata justru sedang mengarahkan kita pada sesuatu yang lebih tepat. Mungkin memang tidak semua pertanyaan harus segera dijawab. Kadang hidup hanya meminta kita untuk percaya. Bukan percaya b...

Dear Diary #6 Tentang Kehilangan Versi Lama Diri Sendiri

Ada kalanya aku merindukan diriku yang dulu. Bukan karena hidup sekarang buruk. Bukan juga karena aku ingin kembali ke masa itu. Aku hanya kadang rindu bagaimana semuanya terasa lebih sederhana. Dulu aku tidak terlalu banyak memikirkan banyak hal. Tidak terlalu sibuk memikirkan masa depan. Tidak terlalu sering mempertanyakan arah hidup. Tidak terlalu keras menuntut diri untuk segera menjadi sesuatu. Semua terasa lebih ringan. Lalu waktu berjalan. Pelan-pelan banyak hal berubah. Pengalaman mengubah cara pandang. Kegagalan mengubah cara melangkah. Kekecewaan mengubah cara percaya. Dan tanpa sadar, aku bukan lagi orang yang sama. Kadang perubahan itu terasa asing. Seolah aku sedang berkenalan dengan versi baru diriku sendiri. Ada bagian dari diriku yang hilang, tapi ada juga bagian baru yang tumbuh. Mungkin memang seperti itulah bertumbuh. Kita tidak hanya belajar menjadi seseorang yang baru. Kita juga belajar merelakan sebagian versi lama diri kita. Dan mungkin, itu tidak apa...