Ada kalanya aku merindukan diriku yang dulu. Bukan karena hidup sekarang buruk. Bukan juga karena aku ingin kembali ke masa itu. Aku hanya kadang rindu bagaimana semuanya terasa lebih sederhana. Dulu aku tidak terlalu banyak memikirkan banyak hal. Tidak terlalu sibuk memikirkan masa depan. Tidak terlalu sering mempertanyakan arah hidup. Tidak terlalu keras menuntut diri untuk segera menjadi sesuatu. Semua terasa lebih ringan. Lalu waktu berjalan. Pelan-pelan banyak hal berubah. Pengalaman mengubah cara pandang. Kegagalan mengubah cara melangkah. Kekecewaan mengubah cara percaya. Dan tanpa sadar, aku bukan lagi orang yang sama. Kadang perubahan itu terasa asing. Seolah aku sedang berkenalan dengan versi baru diriku sendiri. Ada bagian dari diriku yang hilang, tapi ada juga bagian baru yang tumbuh. Mungkin memang seperti itulah bertumbuh. Kita tidak hanya belajar menjadi seseorang yang baru. Kita juga belajar merelakan sebagian versi lama diri kita. Dan mungkin, itu tidak apa...
Belakangan aku sering memikirkan satu hal. Kenapa ya, sekarang semuanya terasa seperti harus terlihat? Kalau sedang berusaha, harus diperlihatkan. Kalau sedang belajar, harus diumumkan. Kalau sedang berkembang, harus dibagikan. Seolah-olah kalau orang lain tidak melihat prosesnya, maka pertumbuhan itu dianggap tidak ada. Padahal hidup tidak selalu seperti itu. Ada banyak perubahan besar yang justru lahir dari hal-hal sunyi. Dari malam-malam panjang yang tidak diketahui siapa-siapa. Dari kegagalan yang dipelajari diam-diam. Dari keputusan kecil yang perlahan mengubah arah hidup seseorang. Tidak semua pertumbuhan butuh tepuk tangan. Tidak semua proses harus dipahami orang lain. Kadang seseorang sedang membangun dirinya dengan sangat serius, hanya saja ia memilih tidak menjadikannya tontonan. Dan mungkin, itu justru bentuk pertumbuhan yang paling jujur. Karena saat tidak ada yang melihat, kita bertumbuh bukan untuk validasi. Melainkan benar-benar untuk menjadi versi diri yang ...