Ada hari ketika seseorang belajar bahwa integritas ternyata bukan sekadar tentang mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Lebih jauh dari itu. Integritas adalah keberanian untuk tetap menyebut sesuatu sebagai kesalahan, bahkan ketika ada alasan yang sebenarnya bisa membuat kita memakluminya. Karena setiap orang punya masalah. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Ada keluarga yang harus dipikirkan. Ada anak yang harus dijaga. Ada cicilan yang harus dibayar. Hidup memang tidak selalu memberi seseorang keadaan yang mudah. Tapi barangkali, sulitnya kehidupan tidak pernah menjadi alasan untuk mengubah sesuatu yang salah menjadi benar. Sebab kalau setiap kesalahan selalu punya pembenaran, pada akhirnya tidak akan ada lagi yang merasa perlu bertanggung jawab. Yang lebih aneh lagi, kadang seseorang bisa terlihat sangat yakin ketika mengatakan tidak tahu apa-apa. Di depan orang lain, ia menjaga namanya. Menjauh ketika kesalahan mulai terbuka. Seolah-olah tidak pernah berada di sana....
Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai memahami bahwa kepercayaan tidak selalu datang dalam bentuk penghargaan. Kadang, ia datang sebagai tanggung jawab. Bukan berupa kata-kata besar atau pengakuan yang ramai terdengar. Melainkan sebuah kesempatan untuk melihat lebih jauh, memahami lebih dalam, dan mencoba memperbaiki sesuatu yang sudah lama berjalan dengan caranya sendiri. Namun semakin seseorang mencoba memahami banyak hal, semakin ia menyadari satu kenyataan. Bahwa menyelesaikan masalah sering kali bukan bagian tersulit. Bagian tersulit adalah membuat orang percaya bahwa memang ada sesuatu yang perlu diselesaikan. Karena sesuatu yang sudah terlalu lama terjadi, perlahan kehilangan rasa salahnya. Kesalahan yang terus berulang akhirnya tidak lagi disebut kesalahan. Ia berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan memiliki cara yang aneh dalam kehidupan manusia. Ia membuat sesuatu yang tidak seharusnya dianggap wajar, perlahan diterima sebagai hal biasa. Bukan karena semua ...