Langsung ke konten utama

Dear Diary #7 Tentang Harga Sebuah Kepercayaan

 

Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai memahami bahwa kepercayaan tidak selalu datang dalam bentuk penghargaan. Kadang, ia datang sebagai tanggung jawab. Bukan berupa kata-kata besar atau pengakuan yang ramai terdengar. Melainkan sebuah kesempatan untuk melihat lebih jauh, memahami lebih dalam, dan mencoba memperbaiki sesuatu yang sudah lama berjalan dengan caranya sendiri.

Namun semakin seseorang mencoba memahami banyak hal, semakin ia menyadari satu kenyataan. Bahwa menyelesaikan masalah sering kali bukan bagian tersulit. Bagian tersulit adalah membuat orang percaya bahwa memang ada sesuatu yang perlu diselesaikan. Karena sesuatu yang sudah terlalu lama terjadi, perlahan kehilangan rasa salahnya. 

Kesalahan yang terus berulang akhirnya tidak lagi disebut kesalahan. Ia berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan memiliki cara yang aneh dalam kehidupan manusia. Ia membuat sesuatu yang tidak seharusnya dianggap wajar, perlahan diterima sebagai hal biasa.

Bukan karena semua orang tidak tahu. Kadang mereka tahu. Kadang mereka sadar. Namun memilih diam terasa lebih mudah daripada menjadi bagian dari perubahan. Sebab perubahan selalu membawa ketidaknyamanan. Ia mengajak manusia melihat kembali hal-hal yang selama ini mungkin sengaja diabaikan. Ia memaksa seseorang bertanya:

"Apakah selama ini kita benar-benar berjalan di arah yang tepat?"

Dan tidak semua orang siap dengan pertanyaan itu. Ada orang-orang yang menjalani hidup hanya dengan menyelesaikan apa yang ada di depan mata. Namun ada juga orang-orang yang suatu hari diberi kesempatan untuk melihat lebih jauh.

Mereka diminta memahami persoalan yang rumit.Mereka diminta belajar memahami manusia. Mereka diminta mencari solusi dari masalah yang sudah lama menjadi bagian dari perjalanan. Bukan karena mereka selalu memiliki jawaban. Bukan karena mereka tidak pernah merasa lelah. Tetapi karena ada seseorang yang percaya bahwa mereka mampu bertumbuh untuk menghadapi itu semua.

Namun, menjadi seseorang yang dipercaya juga memiliki sisi lain. Ada waktu ketika pikiran terasa lebih ramai daripada biasanya. Ada pertanyaan yang muncul diam-diam:

"Mengapa selalu harus memikirkan hal-hal yang rumit?"

"Mengapa selalu dipertemukan dengan sesuatu yang membutuhkan perbaikan?"

Mungkin karena dalam hidup, tidak semua tanggung jawab diberikan kepada orang yang sudah siap. Terkadang, tanggung jawab diberikan kepada orang yang sedang dipersiapkan. Karena hidup tidak selalu mencari seseorang yang paling hebat. Kadang hidup hanya membutuhkan seseorang yang masih memiliki kepedulian ketika banyak orang memilih untuk terbiasa. Sebab perubahan tidak pernah benar-benar dimulai dari orang yang ingin terlihat paling benar.

Perubahan dimulai dari orang yang tetap memilih melakukan hal yang benar. Tanpa haus validasi. Tanpa menjatuhkan orang lain. Tanpa merasa dirinya paling tahu. Karena niat baik tidak membutuhkan panggung untuk membuktikan keberadaannya. Ia cukup dibuktikan melalui proses yang konsisten. Melalui langkah kecil yang mungkin tidak banyak dilihat orang.

Dan mungkin...
itulah harga sebenarnya dari sebuah kepercayaan.
Bukan tentang menjadi seseorang yang dianggap hebat.
Tetapi tentang kesediaan menjaga sesuatu yang telah dititipkan kepadanya.

Penulis by Bintang Amri Putra


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Diary #1 Tentang Terlalu Banyak Berpikir

Belakangan ini aku sering menyadari satu hal. Kadang yang membuat seseorang lelah bukanlah hidupnya, melainkan pikirannya sendiri. Ada begitu banyak kemungkinan yang dipikirkan, begitu banyak skenario yang dibayangkan, begitu banyak ketakutan yang bahkan belum tentu terjadi. Sampai akhirnya, semua itu justru membuat langkah terasa berat. Aku pernah ada di titik terlalu lama berpikir tentang masa depan. Bertanya apakah keputusan ini benar, apakah langkah ini akan berhasil, apakah aku cukup mampu untuk menjalani semuanya. Lucunya, semakin lama dipikirkan, semakin besar pula keraguannya. Sampai akhirnya aku sadar, mungkin tidak semua jawaban hadir dari hasil berpikir. Ada jawaban yang baru muncul ketika kita berani melangkah. Mungkin hidup memang tidak meminta kita memahami semuanya lebih dulu. Kadang, hidup hanya meminta kita untuk percaya dan mencoba. Kalau dipikir-pikir, mungkin banyak kesempatan yang hilang bukan karena kita tidak mampu. Tapi karena kita terlalu sibuk memi...

Dear Diary #4 Tentang Tidak Semua Hal Harus Di Pahami Sekarang

Ada fase dalam hidup ketika semuanya terasa kabur. Kita tidak benar-benar tahu sedang menuju ke mana. Tidak tahu keputusan yang diambil akan membawa ke tempat yang tepat atau justru sebaliknya. Tidak tahu apakah langkah kecil hari ini akan berarti besar nanti, atau hanya menjadi bagian dari jalan memutar yang melelahkan. Di fase seperti itu, pikiran biasanya menjadi sangat berisik. Kita ingin segera memahami semuanya. Ingin tahu kenapa sesuatu harus terjadi. Ingin tahu kenapa jalan terasa lambat. Ingin tahu kapan semuanya mulai terlihat jelas. Tapi semakin aku menjalani hidup, semakin aku sadar bahwa tidak semua hal memang harus dipahami saat ini juga. Ada banyak hal yang baru terlihat maknanya setelah waktu berjalan cukup jauh. Ada banyak kejadian yang dulu terasa seperti kegagalan, ternyata justru sedang mengarahkan kita pada sesuatu yang lebih tepat. Mungkin memang tidak semua pertanyaan harus segera dijawab. Kadang hidup hanya meminta kita untuk percaya. Bukan percaya b...

Dear Diary #8 Tentang Integritas

  Ada hari ketika seseorang belajar bahwa integritas ternyata bukan sekadar tentang mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Lebih jauh dari itu. Integritas adalah keberanian untuk tetap menyebut sesuatu sebagai kesalahan, bahkan ketika ada alasan yang sebenarnya bisa membuat kita memakluminya. Karena setiap orang punya masalah. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Ada keluarga yang harus dipikirkan. Ada anak yang harus dijaga. Ada cicilan yang harus dibayar. Hidup memang tidak selalu memberi seseorang keadaan yang mudah. Tapi barangkali, sulitnya kehidupan tidak pernah menjadi alasan untuk mengubah sesuatu yang salah menjadi benar. Sebab kalau setiap kesalahan selalu punya pembenaran, pada akhirnya tidak akan ada lagi yang merasa perlu bertanggung jawab. Yang lebih aneh lagi, kadang seseorang bisa terlihat sangat yakin ketika mengatakan tidak tahu apa-apa. Di depan orang lain, ia menjaga namanya. Menjauh ketika kesalahan mulai terbuka. Seolah-olah tidak pernah berada di sana....